Blogger news

18 Jul 2015


Saat ini Abigail telah lulus TK dan siap melanjutkan ke tingkat lebih tinggi yaitu SD. Karena Abigail mendaftar di SD swasta, maka persyaratan batas umur tidak mutlak diberlakukan. Dari pengamatan mama, umumnya sekolah swasta mensyaratkan calon siswa berumur sekurang-kurangnya 5 tahun 8 bulan saat akan masuk kelas 1 SD.  Dan lebih mudah lagi jika si anak sudah bisa baca tulis walaupun saat ini di TK, baca tulis bukan pelajaran utama. Maka dengan midah Abigail diterima di sekolah swasta karena umur Abigail sudah 6 tahun 4 bulan saat masuk SD.



Lain swasta lain pula SD negeri. Salah satu pertimbangan orang tua memasukkan anaknya ke sekolah negeri adalah biaya yang dikeluarkan tidak terlalu banyak (walaupun katanya masuk sekolah negeri gratis, kenyataannya ada biaya yang harus dikeluarkan oleh orangtua, misalnya beli baju seragam). Maka masuk SD negeri menjadi pilihan utama kebanyakan orangtua. Bisa dibayangkan betapa peminat orangtua yang anaknya ingin disekolahkan di SD negeri. Apalagi SDN favorit, akan lebih banyak lagi peminatnya dan tentu saja persyaratannya menjadi lebih ketat.

Umumnya SD negeri mensyaratkan calon siswa berumur sekurang-kurangnya 6 tahun 8 bulan. Namun apabila quota belum terpenuhi, persyaratannya dapat diperlunak. Dengan kata lain, calon siswa yang lebih tua mutlak diutamakan diterima di SD negeri, walaupun si anak belum bisa calistung. Sekilas hal ini tidak menjadi masalah. Namun ada kasus dari cerita salah satu guru SD negeri bahwa ada calon anak secara umur memenuhi syarat untuk masuk ke SD negeri tapi menurut sang guru, si anak lebih cocok jika didaftarkan ke SLB (Sekolah Luar Biasa). Orang tua murid tersebut bersikukuh untuk mendaftarkan anaknya ke SD negeri. Toh masuk ke SD negeri tanpa tes, hanya dilihat dari umur saja. :)
Tinggal tugas sang guru yang akan menjadi  lebih sulit mengajarkan anak tersebut.

Masih mengenai batas umur masuk SDN ( SD Negeri). Ada salah satu tetangga waktubmama kecil mendaftarkan anaknya ke SDN favorit, umur si anak saat mendaftar baru genap 6 tahun. Sepertinya agak susah untuk diterima di SDN favorit. Dengan berbagai cara,  sang orang tua menginginkan anaknya masuk ke SDN favorit, akhirnya si anak bisa diterima d SDN tersebut, istilahnya memakai "jalan belakang" atau "jasa orang dalam". Pada saat mengambil raport, tercetak tanggal lahir si anak berbeda dengan akte lahir. Ternyata dulu ketika mendaftar, tanggal lahir si anak dimanipulasi, tahu kelahiran si anak dikurangi 1 sehingga seolah-olah anak menjadi lebih tua setahun. Akhirnya orangtua menjadi kelimbungan lagi. Memakai " jasa orang dalam" kembali menginginkan tanggal lahir si anak menjadi benar. Entah berapa uang yang dihabiakan untuk membayar "jasa orang dalam".

Yang agak menggelikan ada salah satu tetangga waktu kecil dengan bangga memamerkan bahwa anaknya masuk SDN favorit ( jika dilihat dari umur si anak, tidak ragukan lagi si anak pasti diterima di SDN favorit, wong umurnya sudah 7 tahun lebih). Dan meremehkan anak orang lain yang tidak bisa diterima si SDN favorit. Tetanggaku menganggap bahwa jika diterima si SDN favorit, anaknya lebih pintar dibanding jika masuk SDN yang lain. :D

Ada juga orang tua yang menunda anaknya masuk SD lantaran umur si anak belum mencukupi syarat masuk SDN walapun jika dilihat secara psikologi dan akademis si anak bisa dibilang memenuhi syarat. Entahlah, sampai kapan kebijakan ini aka terus diterapkan, kita tungu saja.